Orang Lapar Tidak Memilih Makanan
-
By
admin
- March 29, 2022
- Belajar Menjadi Bijaksana

“Bila lapar, makanlah; bila lelah, tidurlah.” Kewajaran yang diungkapkan dalam pemikiran Zen ini tak lepas dari prinsip yang ditegakkan oleh Hyakujo Ekai (720-814), bahwa sehari tidak bekerja berarti sehari tidak makan. Ia menangkap pesan Buddha dalam hal, “Jangan menggantungkan diri, jangan meminta.”
Banyak orang yang mau bekerja, tetapi mencari pekerjaan ternyata bukan perkara mudah. Hokoji (740-808), seorang pengikut Zen yang terkemuka, pernah mengatakan, “Orang yang kelaparan tidaklah memiliki makanannya.” Orang yang menderita karena menganggur, tidak memilih pekerjaan. Menjadi tukang becak dan pedagang asongan lebih baik daripada menganggur atau mengemis dan menggantungkan diri pada belas kasihan orang-orang lain. Tetapi Jakarta yang semakin maju agaknya terganggu oleh kehadiran tukang becak dan pedagang asongan. Mereka harus menyingkir dikejar-kejar petugas Kamtib.
Di dunia ini tidak ada sesuatu yang muncul tanpa sebab. “Dengan adanya ini, terjadilah itu. Dengan timbulnya ini, timbullah itu. Dengan tidak adanya ini, maka tidak ada itu. Dengan lenyapnya ini, maka lenyaplah itu,” sabda Buddha.[1] Karena segala sesuatu yang kita lihat dan alami itu merupakan akibat atau konsekuensi yang tergantung pada suatu sebab, maka kita bertanya: kenapa?
Anak-anak Betawi misalnya mengungkapkan pola berpikir apa dan kenapa itu dengan menyanyikan lagu Sang Bango:
“Sang bango, ee sang bango, kenapa lu telak telok? Bagaimana gue enggak telak-telok, sebab sang ikan enggak mau timbul…. Sang uler, ee sang uler, kenapa lu mau makan sang kodok? Bagaimana gue enggak mau makan sang kodok, sebab kodok adalah makanan gue.”
Kenapa dan sebab adalah isi lirik lagu tersebut.
Semua orang yang lapar akan berusaha memperoleh makanan dengan segala macam cara, walau harus menempuh bahaya sekalipun. Oleh sebab adanya kebutuhan, manusia terdorong untuk berbuat memuaskan kebutuhan yang dirasakannya. Maslow melihat kebutuhan manusia tersusun dalam bentuk hierarki, menurut urutan yang perlu dipenuhi. Kebutuhan yang paling dasar adalah kebutuhan fisiologis atau jasmaniah yang mutlak untuk hidup: pangan dan sandang misalnya. Kebutuhan berikutnya adalah rasa aman atau adanya perlindungan terhadap suatu ancaman. Lalu di atasnya adalah kebutuhan sosial atau kasih sayang. Selanjutnya kebutuhan akan penghargaan, status, atau kebanggaan. Yang paling tinggi adalah kebutuhan aktualisasi diri. Urutan ini tidak bersifat mutlak, tetapi umumnya kebutuhan pada suatu jenjang timbul setelah kebutuhan yang lebih rendah terpenuhi. Tentunya tidak perlu suatu kebutuhan terpuaskan seratus persen sebelum kebutuhan lain muncul.
Menurut Maslow, derajat kepuasan itu relatif. Para pengikut Buddha, khususnya golongan rahib, membatasi semua kebutuhan dasar atau rendah pada tingkatan yang minimal. Orang yang lapar membutuhkan makan dan minum, tetapi mereka justru sengaja menahan keinginannya dengan berpuasa. Pada orang-orang saleh, kebutuhan yang lebih luhur tidak akan dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Orang-orang suci mengaktualisasi diri, mempertahankan harga dirinya, dan tak kekurangan cintanya ketika menanggung lapar atau menghadapi ancaman apa pun. Konsep pemikiran, nilai, dan pesepsi yang diperolehnya dari ajaran agama memberikan harapan yang menimbulkan perilaku nyata seperti itu. Tentu saja terdapat perbedaan antara pertimbangan surgawi dengan duniawi.
Seorang petani miskin berusaha menahan lapar karena besar keinginannya untuk mendengarkan khotbah Buddha. Buddha menyuruh agar disediakan makanan bagi petani itu, sebelum ia menyampaikan khotbah-Nya. Orang lapar tidak akan terpenuhi kebutuhannya dengan sebuah khotbah. “Kelaparan adalah penyakit yang paling parah, segala sesuatu yang berkondisi merupakan penderitaan yang paling berat. Setelah memahami hal ini sebagaimana adanya, orang bijaksana mengenali nirwana, kebahagiaan yang tertinggi.”[2] Sangat manusiawi jadinya pesan Buddha dikemukakan dalam sebuah ungkapan Zen, “Tidak ada barang satu pun yang menyamai makan dan berpakaian. Di luar itu tidak ada Buddha atau pun Patriarch.”
Masalah pedagang asongan dan tukang becak adalah masalah perikemanusiaan, menyangkut sejumlah mulut yang memerlukan makan. Orang lapar tidak memilih makanannya. Tanpa dibantu mereka sulit untuk menjadi lain dari pedagang asongan atau tukang becak. Pemerintah dengan bijaksana memberi kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki nasibnya. Karena itulah ada esok yang penuh harapan.
14 Maret 1990
[1] Samyutta Nikaya XII, 3:21
[2] Dhammapada 203