Memasuki Tahun Baru
-
By
admin
- March 18, 2022
- Di Atas Kekuasaan dan Kekayaan

Tahun Baru adalah isyarat dari lintasan waktu. Kembali telah kita lewati setahun perjalanan hidup di bumi ini. Setahun itu singkat sekali bagi mereka yang menikmati hidup dengan penuh arti, namun menjadi panjang bagi mereka yang terbelenggu penderitaan. Dengan memperhatikan dimensi waktu, Buddha mengingatkan kita pada perjalanan hidup yang dialami tidak hanya sekarang ini saja.
“Para siswa, tiap seratus tahun manusia, hanyalah sehari semalam bagi dewa Tavatimsa. Sebulan bagi mereka terdiri dari tiga puluh malam seperti itu. Tahun mereka terdiri dari dua belas bulan. Masa hidup para dewa tersebut adalah seribu tahun surganya.” Buddha juga menguraikan bahwa dua ratus tahun manusia hanyalah sehari semalam bagi dewa Yama, yang memiliki masa hidup dua ribu tahun surganya. Empat ratus tahun manusia hanyalah sehari semalam bagi dewa Tusita yang memiliki masa hidup empat ribu tahun surganya. Banyak dewa atau makhluk cahaya lain dengan masa hidup jauh berlipat ganda. Mereka yang berakhir hidupnya di bumi, mungkin akan terlahir di alam-alam semacam itu sesuai dengan kebajikan yang telah diperbuatnya. [1]
Usia bumi kita ini sendiri tidaklah pendek. Sekalipun masa hidup manusia relatif singkat. “Sangat lama, para siswa, umur, satu masa dunia (kappa). Tidaklah mudah untuk menghitung berapa lama adanya dengan pernyataan sekian tahun, sekian abad, sekian ribu abad.” Buddha menjelaskan dengan suatu perumpamaan, Misalkan terdapat sebuah tebing batu yang besar, berbentuk bukit dengan lebar, panjang, dan tinggi masing-masing satu yojana (mil). Lalu setiap seratus tahun sekali, seseorang memukulnya sekali dengan kain Kasi. Umur bukit itu, yakni lama waktu yang diperlukan agar hancur lebur, masih lebih pendek dari umur satu masa dunia. [2] Perjalanan hidup para makhluk yang diselubungi kegelapan (avijja) dan dibelenggu nafsu (tanha), melalui kelahiran dan kematian, dari alam yang satu ke alam yang lain, atau kembali ke bumi, melampaui kappa demi kappa.
“Lebih banyak banjir air mata yang kaucucurkan dibanding air dari keempat samudra, karena ratap dan tangis sepanjang engkau menjalani samsara, tak habis-habisnya dalam jangka waktu yang panjang, bersatu dengan yang tidak kausenangi, berpisah dengan yang kau senangi.”[3]
Dengan memasuki Tahun Baru, dapat diartikan bahwa masa untuk hidup di dunia telah berkurang. Apa yang telah kita capai selama ini? Tidaklah setiap hari, setiap jam, setiap detik kita berusaha memperbaiki kehidupan, termasuk mencapai tingkat kesucian. “Sehari tiada kerja berarti sehari tanpa makan,” begitu diucapkan oleh Pai-chang, salah seorang pemuka Zen. Makna di balik kata-kata ini tidak hanya berlaku dalam hal fisik lahiriah, bahkan dimaksudkan pada kerja yang rohaniah.
Manakala kita mendapatkan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, memasuki Tahun Baru kita memperbaharui semangat dan harapan yang akan menjadikan hidup ini penuh arti.
Seperti inilah hidup
Tujuh kali jatuh,
Delapan kali bangun!
Syair ini diucapkan umat di Jepang dengan menunjuk pada boneka Daruma yang selalu akan bangun, tegak kembali, walau dirobohkan berulang kali. Boneka itu berbentuk bulat pendek gemuk dan tanpa kaki. Konon merupakan simbol dari sang Daruma (Bodhidharma) yang kuat duduk bersemadi.
Keprihatinan saat memasuki Tahun Baru tidak harus berarti lenyapnya kebahagiaan. Buddha menjelaskan bagaimana para siswa-Nya sekalipun makan hanya sekali dan hidup menyepi, namun bisa menikmati kebahagiaan dalam hidup ini.
Mereka tidak meratapi apa pun yang telah berlalu
Mereka tidak merindukan apa pun yang tidaklah datang Dengan apa adanya sekarang mereka memelihara dirinya Sehingga mereka tampak berseri ceria.
Dengan merindukan apa yang tidaklah datang
Dengan meratapi apa yang telah berlalu
Maka orang yang dungu luluh lantak
Nyeri bagai luka teriris sembilu.[4]
Mereka yang telah sukses, merayakan dengan pesta sukacita memang tidak dilarang. Tetapi bagaimanapun berbagi suka pada orang lain, dan untuk itu dibutuhkan pengendalian diri, menjadikan keberhasilan tersebut lebih sempurna.
Ada dua macam kebahagiaan. Pertama, kebahagiaan yang bermata kail (samisa-sukha). Kebahagiaan jenis ini mengandung ratap tangis dan kekecewaan di dalamnya. Apa yang dirasakan menyenangkan itu diperoleh dengan mengikuti hawa nafsu yang tidak pernah mengenal puas. Kedua, kebahagiaan yang tidak bermata kail (niramisa-sukha). Inilah kebahagiaan sejati, yang tidak mengandung ratap tangis dan kekecewaan, kebahagiaan yang membuat batin tenang dan tenteram. Kebahagiaan jenis ini justru dicapai dengan menahan diri. [5]
31 Desember 1986
[1] Anguttara Nikaya VIII, 5:41-42
[2] Samyutta Nikaya XV, I:5
[3] Samyutta Nikaya XV, I:3
[4] Samyutta Nikaya I, 1:10
[5] Samyutta Nikaya II, 1:1