Pembawa Keselamatan
-
By
admin
- January 23, 2022
- Kebenaran Bukan Pembenaran

Banyak orang tak tahan menderita, dulu ataupun sekarang. Kasus depresi ada di mana-mana. Tidak kurang di antaranya sampai masuk rumah sakit jiwa atau bunuh diri. Seorang perempuan, Patacara namanya, menjadi gila karena kehilangan seluruh keluarganya. Ia mondar-mandir di kota dalam keadaan telanjang. Beruntung ia bertemu dengan Buddha, yang berseru kepadanya, “Patacara, sadarlah!” Seketika itu Patacara sembuh.
Buddha tidak hanya menyembuhkan, tetapi juga membimbing Patacara hingga berhasil menjadi Arahat, orang yang suci sempurna. Dengan kata lain Buddha telah menyelamatkannya. Buddha juga menyelamatkan orang jahat. Anggulimala, misalnya, seorang bromocorah yang sudah membunuh sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang, dibuat bertobat, dan dituntun sampai berhasil merealisasi Nirwana.
Hakikat Keselamatan
Keselamatan dalam perspektif Buddhis berarti bebas dari penderitaan secara total, bebas dari kelahiran kembali. Kondisi ini disebut Nirwana, dicapai oleh mereka yang telah merealisasi kesucian tingkat tertinggi (Arahatta). Lain dengan surga, yang bisa dicapai oleh siapa saja yang memiliki iman dan berbuat baik, walau belum tergolong orang suci. Menurut Buddha, keselamatan di surga bersifat sementara; walau kehidupan di sana bisa bermiliar-miliar tahun.
Tidak ada keselamatan absolut tanpa kesucian. Orang suci bersih dari kotoran batin, seperti: ketamakan, kemarahan, kebencian, keirihatian, dendam, kemalasan, tidak tahu malu, dan sebagainya. Ia bebas dari hal-hal yang membelenggunya dalam siklus kelahiran berulang. Belenggu (samyojana) tersebut berupa pandangan keliru tentang ego, keraguan terhadap kebenaran, kepercayaan takhayul, nafsu birahi dan nafsu indrawi lain, niat buruk, kelekatan terhadap alam wujud ataupun tanpa wujud, kesombongan, kegelisahan, dan kegelapan batin.
Upacara keagamaan dan membaca kitab suci, kalau tidak mengurangi belenggu dan kotoran batin, hanyalah sebuah seremonial semata. Tidak punya makna dalam pencapaian kesucian, selain dari sekadar penghiburan. Puasa makan berguna untuk melatih pengendalian diri, tetapi kesucian tidak berhubungan dengan apa yang dimakan atau tidak dimakan oleh seseorang. Orang menjadi suci karena hidup dalam kesadaran dan kebenaran sehingga memiliki kemurnian batin. Kesucian tidak datang dari orang lain, melainkan tergantung pada dirinya sendiri. Tak seorang pun yang dapat menyucikan orang lain (Dhp 165).
Ada banyak mukjizat yang ditunjukkan oleh Buddha. Namun, mukjizat yang paling bermakna adalah membangun kesadaran yang melenyapkan kotoran batin. Kata ‘Buddha’ sendiri bukan nama diri, melainkan sebutan bagi ‘Yang Sadar’ (budh berarti sadar atau bangun). Orang yang sadar hidup membumi, menyadari kenyataan menurut apa adanya, murni tanpa noda. Lin Chi, seorang guru meditasi di abad ke-19 menyatakan bahwa mukjizat yang sebenarnya adalah berjalan di atas bumi, bukan sesuatu yang ajaib seperti berjalan di atas air atau terbang di udara. Mungkin tidak semua orang dapat menangkap maksudnya dengan segera; tetapi orang yang lumpuh, misal karena stroke, pasti akan memahami kebenaran dari pernyataan ini.
Momentum Waisak
Momentum perayaan Waisak di bulan Mei ini mengingatkan kembali kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, dan meninggalnya Buddha Sakyamuni yang pernah berjalan di atas bumi. ”Ia terlahir karena kasih sayang kepada dunia, untuk kepentingan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia” (A. I, 22).
Kenangan kita kepada Buddha historis ini sesungguhnya menyangkut kehidupan-Nya selama 80 tahun, sejak lahir hingga meninggal dunia. Jadi, dapat saja pada satu waktu yang sama kita memperingati sekaligus tiga peristiwa penting dalam kehidupan-Nya itu. Bahkan dalam waktu yang sedetik.
Seringkali kita tidak menyadari, bahwa momen yang sedang kita hadapi—sedetik, bahkan lebih singkat lagi—menentukan kehidupan kita selanjutnya. Kesadaran-penuh memiliki kapasitas untuk menjaga kewaspadaan kita pada apa yang terjadi di sini, sekarang ini. Dalam momen kegelapan, daripada mengeluh, kita mencari dan menyalakan pelita. Pelita itu adalah kesadaran yang ada di kedalaman hati kita, cahaya sanubari. Kita punya kekuatan untuk insyaf, untuk bangkit, secara sadar melakukan transformasi, berdamai dengan diri sendiri dan lingkungan.
Membangun kesadaran merupakan Jalan untuk mengakhiri penderitaan. Sedang kelengahan mendatangkan berbagai kesulitan. Kesadaran sering disamakan dengan pikiran, terkait dengan ingatan dan perhatian murni (sati) serta menginsafi (sampajanna), juga kewaspadaan atau kehati-hatian (appamada). Kesadaran mengalami, menerima, memeriksa, memutuskan baik atau buruk; bukan hanya mengamati tetapi juga merekam. Fenomena hati nurani juga berhubungan dengan kesadaran. Kesadaran bisa dilatih, khususnya melalui meditasi.
Orang yang berlatih mengembangkan kesadaran akan mampu mengubah hidupnya serta menumbuhkan cinta kasih dan memaafkan. Dengan praktik itu pula mereka dapat mengurangi penderitaan sendiri sekaligus juga penderitaan orang-orang di sekitarnya. Karena siapa saja mempunyai kemampuan untuk menjadi sadar, maka dikatakan semua orang bisa menjadi Buddha.
Selamat Waisak. Semoga semua makhluk bahagia.
Jakarta, Mei 2010