Sekilas Tahun Macan
-
By
admin
- January 23, 2022
- Kebenaran Bukan Pembenaran

Konon menjelang tutup usia, Buddha menerima kunjungan dua belas jenis binatang. Pertama-tama Tikus, kemudian Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, dan yang terakhir Babi. Setiap hewan tersebut mendapat penghargaan, secara bergilir menguasai satu tahun kalender.
Legenda ini memengaruhi penanggalan Imlek menyangkut horoskop dua belas tahun binatang (cap-ji-shio). Masing-masing shio merepresentasikan sifat yang berbeda pada setiap anak manusia yang lahir di tahun yang bersangkutan, juga mewarnai peristiwa yang terjadi di dunia.
Enkulturasi dan Transformasi
Tahun Baru Imlek sering disebut sebagai Tahun Baru China. Memang asalnya dari China. Tetapi Tahun Baru Imlek tidak hanya dirayakan oleh orang-orang China. Bangsa Vietnam, Korea, dan Tibet merayakan tahun baru yang sama dengan sebutan masing-masing, Tet, Seollal, dan Losar. Di negara asalnya Tahun Baru Imlek dirayakan sebagai pesta awal musim semi. Lalu apa hubungannya Indonesia dengan musim semi?
Pada zaman Orde Baru berdasar kepentingan politis perayaan Imlek dilarang. Tetapi penggunaan kalender Imlek tidak mungkin ditinggalkan. Primbon yang begitu kental mewarnai budaya masyarakat tradisional, masih punya peran dalam dunia modern. Ya, sepanjang manusia masih senang astrologi, meramal, mencari peluang baik, dan menghindari nahas. Bukan hanya itu, tarikh Imlek dipergunakan secara luas untuk kepentingan peribadatan. Bagaimana pun peribadatan tidak bisa dilarang.
Setiap tanggal satu kalender ini selalu bulan baru, dan tanggal lima belas bulan purnama. Hari-hari itu disebut Upavasatha (Sanskerta) yang belakangan dikenal sebagai kata puasa. Secara harfiah kata ini mengandung arti “masuk untuk berdiam (dalam keluhuran)”, yang menurut praktiknya diartikan di dalam wihara atau kompleks wihara. Umat bukan hanya menjalankan ritual, tetapi juga melatih diri secara lebih ketat dari hari-hari lain, menyucikan pikiran, ucapan, dan perbuatan.
Orang Tionghoa menerima dan memeluk agama Buddha tanpa menjadi orang India. Dari segi bahasa saja, mereka bukan sekadar mentransliterasi, melainkan mengalihbahasakan dan memakai terminologi dalam bahasanya sendiri. Gambar atau arca semua Buddha dan Bodhisattwa ditampilkan sebagai sosok berwajah Tionghoa. Selain ikonografi, dalam berbagai hal menyangkut arsitektur, seni lukis, musik, ritus, hingga aspek kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan lain-lain, agama Buddha menjadi bagian yang menyatu dengan apa yang menjadi ciri-ciri Tionghoa.
Namun kebudayaan sebagaimana peradaban tidak identik dengan ras. Pewarisan kebudayaan pun mengalami revisi sesuai dengan tuntutan zaman. Setiap transformasi akan diikuti kecenderungan mencari keseimbangan, sehingga lahir wujud baru. Di era reformasi Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional. Tahun Baru Imlek ada berdasarkan penggunaan kalendernya. Bagi Indonesia tentu bukan untuk merayakan datangnya musim semi. Ini adalah sebuah pengakuan atas kenyataan sosial. Hak asasi manusia harus dihormati, tidak ada lagi diskriminasi yang membatasi ruang gerak masyarakat Tionghoa sebagai sesama warganegara Indonesia.
Memaknai Simbol
Tahun Baru Imlek yang lalu (14 Februari 2010) adalah hari pertama Tahun Macan, menggantikan Tahun Kerbau. Kebetulan kerbau jadi topik pembicaraan di saat-saat menyongsong kedatangan Tahun Macan. Pendemo pada aksi unjuk rasa membawa seekor kerbau. Kerbau bisa diartikan menggambarkan pemerintahan yang gemuk tapi lamban dalam menanggapi kebutuhan masyarakat. Bisa juga mengingatkan kita pada bintang penolong yang membantu petani di sawah. Bagaimana pun orang menafsirkannya, apakah itu sebuah penghinaan atau bukan, terlepas dari persoalan mengganggu ketertiban umum atau masih dalam batas terkendali, tentu aspirasi rakyat memerlukan perhatian.
Menurut primbon di bawah pengaruh shio kerbau orang mudah goyah pendiriannya, ragu-ragu karena terlalu banyak pertimbangan, dan takut risiko. Jika didampingi mitra yang baik nasibnya mujur, bisa kaya raya dan panjang umur. Sedangkan shio macan dihubungkan dengan kekuasaan, keperkasaan, dan hawa nafsu. Kebanyakan orang mengagumi macan sekaligus harus waspada menghadapinya. Siapa yang tidak khawatir kalau satu waktu menjadi mangsa raja rimba ini.
Agaknya risi membandingkan manusia dengan binatang. Sering kita dengar ungkapan lion spirit, semangat singa. Mengapa bukan semangat manusia? Moggallana mendapat resep melawan ngantuk dari Buddha, salah satunya sikap seekor singa yang siaga. Ucapan Sariputra tentang keunggulan Buddha Gotama disebut raungan singa. Itulah bahasa simbol. Mata manusia melihat semangat pada singa, atau kekuatan pada kuda, kehebatan pada gajah, dan lain-lain. Bagaimana dengan semangat dan kekuatan manusia sendiri? Menjadi manusia berarti memerlukan semangat dan kekuatan manusia.
Jakarta, Februari 2010